Kamis, 21 Agustus 2014

Amal usaha Muhammadiyah

Amal usaha Muhammadiyah (AUM) mencapai
3.370 TK,
2901 SD/MI,
1.761 SMP/MTs,
941 SMA/MA/SMK,
67 Pondok Pesantren, dan
167 perguruan tinggi.

Pada sektor kesehatan tercatat sebanyak
47 Rumah Sakit (PKU),
217 Poliklinik,
82 klinik bersalin.

Sementara di sektor ekonomi ada
1 bank syariah (saham Muhammadiyah 2,5 %),
26 BPR/BPRS dan
275 Baitul Maal wat Tamwil/Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM),
1 induk Koperasi BTM,
81 Koperasi Syariah,
22 Minimart dan
5 kedai pesisir.

Demikian juga pada wilayah sosial, Muhammadiyah memiliki lebih
400 buah panti asuhan, rumah singgah dan sejenisnya. 

Takaran kasar total asset Muhammadiyah itu lebih dari Rp 20 triliun.

http://mysharing.co/muhammadiyah-terbitkan-e-money-duitmu/

Senin, 18 Agustus 2014

Arkeolog UI: Situs Gunung Padang Kado Istimewa HUT ke-69 RI

http://news.detik.com/read/2014/08/17/181503/2664606/10/arkeolog-ui-situs-gunung-padang-kado-istimewa-hut-ke-69-ri
Minggu, 17/08/2014 18:15 WIB

Jakarta - Para peneliti dan ilmuwan berbagai ilmu yang telah melakukan riset bertahun-tahun di Situs Gunung Padang. Hasilnya, situs yang terletak di Cianjur, Jawa Barat ini merupakan bangunan purbakala terbesar dunia.

Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Ali Akbar mengatakan kepastain hasil riset ilmiah ini menjadi kado buat rakyat, khususnya bertepatan pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selasa, 03 Juni 2014

Imam Bukhari melakukan ta'wil

Kalau kita mengamati dengan seksama, perdebatan orang-orang Wahhabi dengan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, akan mudah kita simpulkan, bahwa kaum Wahhabi seringkali mengeluarkan vonis hukum tanpa memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan tidak jarang, pernyataan mereka dapat menjadi senjata untuk memukul balik pandangan mereka sendiri. Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan bercerita kepada saya.

“Ada sebuah pesantren di kota Siantar, Siamlungun, Sumatera Utara. Pesantren itu bernama Pondok Pesantren Darus Salam. Setiap tahun, Pondok tersebut mengadakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengundang sejumlah ulama dari berbagai daerah termasuk Medan dan Aceh. Acara puncak biasanya ditaruh pada siang hari. Malam harinya diisi dengan diskusi. Pada Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahun 2010 ini saya dan beberapa orang ustadz diminta sebagai pembicara dalam acara diskusi. Kebetulan diskusi kali ini membahas tentang Salafi apa dan mengapa, dengan judul Ada Apa Dengan Salafi?

Sistematika Nuzulnya Wahyu

Sejarah Sistematika Nuzulul Wahyu

Oleh Aco Wahab

BAB 1

Pendahuluan

1.1 Sejarah Penggagas Sistematika Nuzulul Wahyu

Sebelum masuk mengupas sejarah lahirnya sistematika nuzulul wahyu, ada baiknya jika terlebih dahulu mencoba mengenal pribadi penggagas manhaj sistematika nuzulul wahyu, agar kita dapat mengetahui latar belakang lahirnya Sistematika Nuzulul Wahyu.

Riwayat Hidup Abdullah Said

Adalah Abdullah Said penggagas Sistematika Nuzulul Wahyu, dengan nama Muhsin Kahar sebelum Hijrah ke Balikpapan. Lahir tepat pada hari proklamasi kemerdekaan republik Indonesia hari jumat tanggal 17 Agustus 1945 di Lamatti Rilau, salah satu desa dalam wilayah kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai (Sulsel).
Beliau pernah menempuh studi di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Namun hanya satu tahun mengikuti kuliah, lalu berhenti. Dalam buku Mencetak Kader yang ditulis oleh Alm. Mansur Salbu “ sekedar mendapat predikat sarjana? Bukan itu yang diperlukan. Walaupun pada waktu itu title sarjana sangat mahal, bisa membuat orang besar kepala. Bagi Muhsin Kahar, lebih tepat kalau aktif di organisasi, giat berdakwah, dan gencar membaca. Itulah yang menjadi alasannya sehingga meninggalkan bangku kuliah.

Hati atau Jantung?

Umumnya banyak yang memaknai hadits ini dengan hati, tetapi yang tepat mungkin jantung.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu)

Hati, Antara Kalbu dan Fuad

OLEH: AGUS MUSTOFA
 
HATI adalah istilah yang sering disebut Alquran ketika berbicara tentang keimanan dan  spiritualitas. Bahwa, orang-orang beriman adalah mereka yang hatinya bergetar ketika mendengar nama Allah disebut, atau ketika ayat-ayat Alquran dibacakan kepadanya. Bagaimanakah kita memahami hati terkait dengan upaya peningkatan spiritualitas selama Ramadan ini?

Dalam bahasa Arab istilah “hati” sebenarnya bersumber pada dua kata: Kalbu dan Fuad. Sayangnya, karena keterbatasan kosa kata dalam bahasa Indonesia, kedua kata tersebut diterjemahkan sama, menjadi ”hati”. Padahal, keduanya memiliki penekanan makna yang berbeda. Kalbu lebih menunjuk kepada sosok lahiriah dari hati, sedangkan fuad lebih mengacu kepada hati yang bersifat batiniah.

Karena itu, kita harus hati-hati dan cermat menangkap maknanya, sesuai dengan konteks ayat atau kalimat hadits yang kita jadikan rujukan. Misalnya, hadits berikut ini. Alaa wainna fiil jasadi mudhghatan idzaa shalahat shalahal jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasadal jasadu kulluhu alaa wahiyal kalbu - “Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh ada segumpal daging. Jika daging itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging itu adalah kalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Membedah Landasan Filosofis Kurikulum 2013, Manusia ialah Tujuan Akhir Pendidikan

sumber: http://mjeducation.com/membedah-landasan-filosofis-kurikulum-2013-manusia-ialah-tujuan-akhir-pendidikan/

oleh Nugroho Angkasa

Selasa pagi (28/5/2013) matahari bersinar cerah. Jam tangan masih menunjuk pukul 09.30 WIB tapi puluhan hadirin peserta diskusi telah memadati ruang Dinamika Edukasi Dasar (DED) di Jalan Gejayan – Affandi, Gang. Kuwera 14 Mrican, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sembari menanti pengunjung bisa membaca buku-buku di perpustakaan dan menikmati jajanan pasar serta teh hangat yang telah disediakan oleh panitia. Tepat pukul 10.00 WIB acara “Seri Diskusi Pemikiran Pendidikan” pun dimulai. Acara yang digelar rutin setiap dua bulan sekali tersebut hasil kerja sama DED dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Kali ini tema yang diangkat masih hangat, yakni “Membedah Landasan Filosofis Kurikulum 2013”.

Kamis, 15 Mei 2014

Hewan, Pohon, Batu dapat Berbicara

Keajaiban Hewan dan Batu dalam Sejarah Islam

 http://www.eramuslim.com/peradaban/quran-sunnah/keajaiban-hewan-dan-batu-dalam-sejarah-islam.htm

1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman

Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

Alasan mendahulukan yang kanan

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, & dalam seluruh aktifitas beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5926 & Muslim no. 268)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ لِيَكُنْ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ
“Apabila salah seorang dari kalian memakai sandal, hendaknya memulai dengan yang kanan, & apabila dia melepas hendaknya mulai dengan yang kiri. Hendaknya yang kanan pertama kali mengenakan sandal dan yang terakhir melepasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5856 & Muslim no. 2097)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِلَبَنٍ قَدْ شِيبَ بِمَاءٍ وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ وَعَنْ يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ فَشَرِبَ ثُمَّ أَعْطَى الْأَعْرَابِيَّ وَقَالَ الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi minum susu campur air, sementara di sebelah kanan beliau ada seorang badui dan di sebelah kiri beliau ada Abu Bakr. Maka beliau minum kemudian beliau berikan (sisanya) kepada orang badui tersebut. Beliau bersabda: “Hendaknya dimulai dari sebelah kanan dahulu dan seterusnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5619 & Muslim no. 29029)

Minggu, 27 April 2014

KIAI WAHID HASYIM, KIAI ABDULLAH AQIB DAN KARTU REMI


Abdullah Aqib masih belum genap berusia 20 tahun manakala ia menjadi santri di Tebuireng. Di pesantren asuhan Hadratussyaikh M. Hasyim Asyari itu ia menjadi kader KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Muhammad Ilyas di Madrasah Nidzomiyah. Di madrasah yang menerapkan sistem klasikal dengan komposisi materi 70% umum dan 30% agama ini, Abdullah Aqib merasa senang saat ia diterima di sana menjelang akhir dasawarsa 1930-an.