Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2015

Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi

https://mpiuika.wordpress.com/2010/01/27/perbedaan-skripsi-tesis-dan-disertasi/


Topi Gaya (TOGA)
Secara akademik SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI memiliki persamaan yaitu merupakan dokumen tertulis yang merupakan tugas akhir para mahasiswa, mengikuti kaidah penulisan yang baku dan sistematis, dan menggunakan metode ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan di depan dosen pembimbing dan penguji.  Skripsi adalah  Tugas akhir jenjang sarjana (S1),  Tesis adalah Tugas akhir jenjang Magister (S2) sedangkan  Disertasi (S3) merupakan Tugas akhir jenjang Doktor (S3, jenjang tertinggi akademik).  Skripsi adalah tugas akhir calon sarjana dengan level sebagai peneliti pemula atau pembelajaran menjadi peneliti, dimana bobot penelitian dan ketajaman analisis paling rendah dibandingkan dengan Tesis atau Disertasi.
Namun demikian banyak pula mahasiswa yang belum mengerti perbedaan di antara  ketiganya.  Pada Skripsi, kajian deskriptif atau paparan lebih dominan dibandingkan dengan kajian analitis.  Disamping itu pada skripsi jumlah rumusan masalah biasanya sekitar 1 atau 2 rumusan masalah, sedangkan tesis biasanya minimal 3 rumusan masalah.  Kemudian untuk doktor Lebih dari 3  rumusan masalah dengan bobot ilmiah yang paling tinggi dibandingkan yang lain (Lihat Tabel 1).

Selasa, 03 Juni 2014

Sistematika Nuzulnya Wahyu

Sejarah Sistematika Nuzulul Wahyu

Oleh Aco Wahab

BAB 1

Pendahuluan

1.1 Sejarah Penggagas Sistematika Nuzulul Wahyu

Sebelum masuk mengupas sejarah lahirnya sistematika nuzulul wahyu, ada baiknya jika terlebih dahulu mencoba mengenal pribadi penggagas manhaj sistematika nuzulul wahyu, agar kita dapat mengetahui latar belakang lahirnya Sistematika Nuzulul Wahyu.

Riwayat Hidup Abdullah Said

Adalah Abdullah Said penggagas Sistematika Nuzulul Wahyu, dengan nama Muhsin Kahar sebelum Hijrah ke Balikpapan. Lahir tepat pada hari proklamasi kemerdekaan republik Indonesia hari jumat tanggal 17 Agustus 1945 di Lamatti Rilau, salah satu desa dalam wilayah kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai (Sulsel).
Beliau pernah menempuh studi di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Namun hanya satu tahun mengikuti kuliah, lalu berhenti. Dalam buku Mencetak Kader yang ditulis oleh Alm. Mansur Salbu “ sekedar mendapat predikat sarjana? Bukan itu yang diperlukan. Walaupun pada waktu itu title sarjana sangat mahal, bisa membuat orang besar kepala. Bagi Muhsin Kahar, lebih tepat kalau aktif di organisasi, giat berdakwah, dan gencar membaca. Itulah yang menjadi alasannya sehingga meninggalkan bangku kuliah.

Membedah Landasan Filosofis Kurikulum 2013, Manusia ialah Tujuan Akhir Pendidikan

sumber: http://mjeducation.com/membedah-landasan-filosofis-kurikulum-2013-manusia-ialah-tujuan-akhir-pendidikan/

oleh Nugroho Angkasa

Selasa pagi (28/5/2013) matahari bersinar cerah. Jam tangan masih menunjuk pukul 09.30 WIB tapi puluhan hadirin peserta diskusi telah memadati ruang Dinamika Edukasi Dasar (DED) di Jalan Gejayan – Affandi, Gang. Kuwera 14 Mrican, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sembari menanti pengunjung bisa membaca buku-buku di perpustakaan dan menikmati jajanan pasar serta teh hangat yang telah disediakan oleh panitia. Tepat pukul 10.00 WIB acara “Seri Diskusi Pemikiran Pendidikan” pun dimulai. Acara yang digelar rutin setiap dua bulan sekali tersebut hasil kerja sama DED dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Kali ini tema yang diangkat masih hangat, yakni “Membedah Landasan Filosofis Kurikulum 2013”.

Minggu, 27 April 2014

KIAI WAHID HASYIM, KIAI ABDULLAH AQIB DAN KARTU REMI


Abdullah Aqib masih belum genap berusia 20 tahun manakala ia menjadi santri di Tebuireng. Di pesantren asuhan Hadratussyaikh M. Hasyim Asyari itu ia menjadi kader KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Muhammad Ilyas di Madrasah Nidzomiyah. Di madrasah yang menerapkan sistem klasikal dengan komposisi materi 70% umum dan 30% agama ini, Abdullah Aqib merasa senang saat ia diterima di sana menjelang akhir dasawarsa 1930-an.

Minggu, 09 Februari 2014

Ambillah dari Guru Ilmu dan Akhlaknya Sekaligus

IBRAHIM BIN HABIB BIN AS SYAHID yang merupakan perawi hadits yang tsiqah demikian juga ayahnya, menyampaikan, bahwa ayah beliau pernah berpesan,”Wahai anakku, datangilah fuqaha dan ulama dan belajarlah dari mereka. Ambillah dari mereka adab dan akhlak, itu lebih aku cintai darimu daripada banyak hadits.” (Jami’ Adab As Sami’ wa Adab Ar Rawi, 1/80)

http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/08/7206/ambillah-dari-guru-ilmu-dan-akhlaknya-sekaligus.html

Diam! Engkau Tidak Memiliki Syeikh!

IMAM QADHI IYADHL AL MALIKI menyampaikan bahwa seorang ulama yang bernama Abu Jakfar Ad Dawudi Al Asadi suatu saat melarang para ulama Qairawan semasanya untuk tinggal dan menetap wilayah di Kerajaan Badi Ubaid. Dan ia kirim surat kepada mereka perihal hal itu, namun ulama itupun membalas larangan itu,”Diamlah! Engkau adalah orang yang tidak memiliki Syeikh!”

Antara yang Berguru dan yang Tidak

IMAM IBNU HAZM AL ANDALUSImerupakan ulama besar rujukan madzhab Ad Dzahiri, sebuah madzhab memiliki metode tersendiri yang berbeda dengan 4 madzhab lainnya dalam mengambil kesimpulan hukum yakni dengan mengacu kepada dzahir nash serta menolak metode qiyas.

Tazkiyatun al-Nafs, Syarat mencari Ilmu

oleh: Muhammad Saad

KARENA tujuan ilmu dalam Islam sangat mulia, yaitu untuk mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka syarat untuk meraihnya pun sangat ketat.
Syarat mencari ilmu merupakan bagian adab dari mencari ilmu. Di antara syarat utama mencari ilmu adalah pembersihan diri dari dosa-dosa yang bisa menghalangi kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Selasa, 14 Januari 2014

Fakta-fakta menarik tentang masa-masa SMA.

1. Pelajaran yg paling disukai anak SMA adalah pelajaran kosong.

2. Saat pelajaran kosong lebih banyak dihabiskan di kantin.

Minggu, 17 November 2013

Bahaya Buku Andrea Hirata

Monday, February 11, 2013    37 comments
http://www.timur-angin.com/2013/02/bahaya-buku-andrea-hirata.html


SEORANG telah mengirimkan pesan yang berisi perkenalan serta permintaan agar saya membimbingnya hingga lulus program beasiswa. Ia mengirimkan surat panjang,dimilai dengan kata “Yang Bertandatangan di Bawah Ini”. Kemudian paragraf berikutnya adalah data diri. Lalu, informasi kalau orangtuanya telah meninggal, skill yang terbatas, serta keinginan untuk keluar dari belenggu kemiskinan.

Petisi UN

http://www.change.org/id/petisi/m-nuh-hapuskan-un-sebagai-syarat-kelulusan#share

Sudah 10 tahun lebih Ujian Nasional berjalan. Pemerintah menyatakan bahwa Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan diperlukan untuk memetakan, menjamin dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Kenyataannya berbagai tes pemetaan global seperti PISA, TIMSS, PIRLS dan Learning Curve menunjukkan Indonesia tetap tak bergerak dari posisi terbawah sejak tahun 2000. Anak-anak kita menjadi sangat kuat dalam kemampuan hapalan, namun jeblok di kemampuan pemahaman, aplikasi, analisa, evaluasi dan sintesa.

Kumpulan Liputan UN

Guru Besar Kecam Pelaksanaan Ujian Nasional, Tribun News >> http://id.berita.yahoo.com/guru-besar-kecam-pelaksanaan-un-114421408.html

17 Profesor Sepakat Ujian Nasional Dihapus, Rakyat Merdeka Online >>
http://polhukam.rmol.co/read/2012/11/25/86849/17-Profesor-Sepakat-Ujian-Nasional-Dihapus-

Petisi Reposisi Ujian Nasional demi Pendidikan Indonesia yang Lebih Baik! Ayo Tandatangan Sekarang!!

28 November 2012 pukul 7:19

Dua hari terakhir ini ramai pembahasan tentang posisi kualitas pendidikan Indonesia menduduki posisi tiga terbawah dari 40 negara yang dibandingkan. Sedih ya? Nah, kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan para pendukung petisi reposisi Ujian Nasional utk minta Kemendikbud segera mengikuti permintaan semua pihak termasuk Mahkamah Agung! Kita butuh pemetaan, kembalikan Ujian Nasional ke fungsi awal yaitu pemetaan, kita butuh tahu aspek mana saja yang perlu diperbaiki. UN lebih fokus sebagai tes kelulusan dan ini tidak sesuai dgn filosofi pendidikan dan merusak karakter bangsa. Ayo ikut tandatangan petisinya (link ada di bagian bawah tulisan ini)! Percayalah ini bukan cuma petisi2an, tapi ini adalah awal dari perjuangan untuk bantu tingkatkan kualitas pendidikan Indonesia karena sudah melibatkan koordinasi dengan banyak pihak, hanya tinggal tundukkan tambengnya Kemdikbud ini lhoooo yang susahnya setengah mati.

Kerusakan Multidimensional Kebijakan UN

Oleh: Doni Koesoema A.
http://www.bincangedukasi.com/kerusakan-multidimensional-kebijakan-un.html

Kebijakan Ujian Nasional (UN) yang telah dimulai satu dasawarsa lalu ternyata telah terbukti tidak dapat meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dampak-dampak merusak selama 10 tahun penyelenggaraan kebijakan Ujian Nasional telah menjadi bukti bahwa UN tidak efektif, melenceng dari tujuan semula, dan tidak membawa manfaat bagi kemajuan bangsa ini. Karena itu, Ujian Nasional harus dihentikan.
Artikel ini mengulas 13 dampak kerusakan multidimensional akibat kebijakan UN yang menghancurkan sendi-sendi pendidikan nasional, bukan hanya sampai level kebijakan di unit sekolah, melainkan juga sampai pada kehancuran moral, psikologis, pedagogis, finansial, para pemangku kepentingan pendidikan, terutama siswa, guru, orang tua, dan masyarakat pada umumnya. 13 dimensi kerusakan akibat kebijakan UN adalah sebagai berikut.

Senin, 11 November 2013

Ini Dia Kota Ternyaman di Indonesia

Jakarta -Indonesia memiliki banyak kota-kota untuk dijadikan tempat tinggal. Dari sekian banyak kota di Indonesia, ada satu kota yang mendapatkan predikat 'The Most Liveable City' atau kota ternyaman untuk ditinggali, di mana?

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak menyebutkan, dari survey yang dilakukan Ikatan Ahli Perencanaan, kota yang memiliki indikator sebagai kota ternyaman untuk ditinggali di Indonesia adalah Yogyakarta.

Kamis, 19 September 2013

Kisah Sarjana IPB yang Memilih Jadi Petani

Rabu, 11 September 2013 | 13:07 WIB

Kisah Sarjana IPB yang Memilih Jadi Petani

Pewarta: Gatot Aribowo | Dibaca 17393 kali

Awalnya dicemooh. Lama-lama, pada berguru padanya. Pengabdiannya yang luar biasa untuk kampung halamannya patut dijadikan inspirasi.


Jumat, 19 Juli 2013

Isi Lengkap Surat Taliban untuk Malala

http://www.tempo.co/read/news/2013/07/18/118497384/Isi-Lengkap-Surat-Taliban-untuk-Malala
 
TEMPO.CO, Islamabad - Beberapa hari setelah Malala Yousafzai, remaja putri Pakistan yang ditembah di kepala karena menyerukan pendidikan untuk anak perempuan, berpidato di forum PBB, seorang pemimpin Taliban Pakistan melayangkan surat padanya. Dalam surat itu, ia menjelaskan mengapa bocah asal Lembah Swat itu ditembak  dan menyatakan penyesalan bahwa hal itu pernah terjadi.

Menggunakan bahasa Inggris yang buruk, Adnan Rasheed mengatakan ia terkejut mendengar upaya pembunuhan Oktober lalu. Malala mengalami luka serius setelah orang-orang bersenjata dengan penutup wajah merangsek ke dalam bus sekolah saat ia kembali ke rumahnya.

Berikut surat Rasheed untuk Malala, yang menjelaskan mengapa Taliban menargetnya dan berusaha untuk membunuhnya:

Senin, 01 Juli 2013

Konferensi New Media Soroti Sepak Terjang Raksasa Media Online Asing

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertumbuhan jumlah pengguna internet di Indonesia menjadi pasar yang amat menggiurkan bagi industri bisnis online, termasuk pemain asing.
Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2007 jumlah pengguna internet baru 20 juta orang, lalu meningkat menjadi 25 juta pada 2008, 30 juta pada 2009, 42 juta pada 2010, 55 juta pada 2011, hingga mencapai 63 juta pada tahun 2012.
Akibat pertumbuhan pesat itu para "raksasa" global pun berlomba meraup untung di Indonesia antara lain Google, Yahoo dan Facebook.

Sabtu, 29 Juni 2013

Bahasa Antara Islamisasi dan Sekularisasi

Oleh: Arif Munandar Riswanto
http://www.hidayatullah.com/read/28761/29/05/2013/bahasa-antara-islamisasi-dan-sekularisasi.html




PADA
tanggal 18 Mei 2012, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyampaikan syarahan dwi mingguannya pada acara Saturday Night Lecture. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Center for Advanced Studies on Islam Science and Civilization (CASIS) tersebut, Prof. Al-Attas berbicara panjang lebar tentang bahasa (language), terutama apa yang dia sebut sebagai “bahasa Islam” (Islamic language). Menurutnya, ada tiga ciri dalam bahasa Islam: pertama, memiliki akar kata; kedua, memiliki pola khusus dalam arti (sehingga menyebabkannya bisa difahami); ketiga, kedua karakteristik tersebut kemudian ditulis oleh para ilmuwan Muslim dalam bentuk kamus-kamus otoritatif.

Prof. al-Attas kemudian menjelaskan bahwa bahasa Islam lahir seiring dengan proses turunnya wahyu kepada Rasulullah. Wahyu tersebut kemudian mengislamkan bahasa Arab Jahiliyah. Untuk itulah, menurutnya, istilah-istilah kunci (key terms) di dalam Islam pada akhirnya selalu bersumber dari al-Quran. Sebab, al-Quran menjadi bukti paling sahih proses islamisasi bahasa Arab. Untuk itulah, menurut Prof. al-Attas, bahwa proses islamisasi (sebuah ide besar dan genuine yang berasal darinya) harus dimulai dari bahasa—sebagaimana yang dilakukan oleh al-Quran terhadap bahasa Arab.

Jumat, 21 Juni 2013

Perlu Internasionalisasi atau Dekolonisasi?

Rabu, 16 Januari 2013 - 23:47 | 0 komentar
Tahun 2013 diawali oleh satu peristiwa penting di sektor pendidikan nasional. Pada sidang tanggal 8 Januari, Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memutuskan membatalkan Pasal 50 UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ayat 3 dari Pasal 50 tersebut adalah landasan hukum pelaksanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang kini (sampai akhir 2012) sudah mencapai jumlah sekitar 1.300 di seluruh Indonesia. Alasan utama keputusan MK adalah bahwa RSBI pada dasarnya melanggar amanah konstitusi (UUD 1945) tentang kewajiban negara (pemerintah) menyediakan pelayanan pendidikan dasar kepada warganya tanpa perkecualian apapun. Kebijakan dan pelaksanaan RSBI justru mengarah pada adanya diskriminasi tersebut.