Oleh : Yahya C. Staquf
Hadlratusy Syaikh Muhammad Hasyim bin Asy’ari Basyaiban adalah kyai
semesta. Guru dari segala kyai di tanah Jawa. Beliau kyai paripurna. Apa
pun yang beliau dhawuhkan menjadi tongkat penuntun seumur hidup bagi
santri-santrinya, bahkan sesudah wafatnya.
Nahdlatul Ulama
adalah warisan beliau yang terus dilestarikan hingga para cucu-santri
dan para buyut-santri, hingga sekarang. Segerombol jama’ah dalam merek
jam’iyyah yang kurang rapi, sebuah ikatan yang yang ideologinya susah
diidentifikasi, identitas yang nyaris tanpa definisi… tapi toh begitu
terasa balutannya… bagi mereka yang —entah kenapa— mencintainya…
Barangkali karena memang Nahdlatul Ulama itu ikatan yang azali, cap
yang dilekatkan pada ruh sejak dari sononya, sebagaimana Hadlaratusy
Syaikh sendiri mencandranya:
بيني وبينكم في المحبة نسبة
مستورة في سر هذا العالم
نحن الذون تحاببت أرواحنا
من قبل خلق الله طينة آدم
antara aku dan kalian ada tautan cinta
tersembunyi dibalik rah’sia alam
arwah kita sudah saling mencinta
sebelum Allah mencipta lempungnya Adam
Ke-NU-an sejati ada di hati, bukan nomor anggota.
Kyai Abdul Karim Hasyim, putera Hadlratusy Syaikh sendiri, menolak ikut
ketika NU keluar dari Masyumi. Demikian pula salah seorang santri
Hadlratusy Syaikh, Kyai Majid, ayahanda Almarhum Prof. Dr. Nurcholis
Majid. Mereka berdua memilih tetap didalam Masyumi. Apakah mereka tak
lagi NU? Belum tentu. Mereka memilih sikap itu karena berpegang pada
pernyataan Hadlratusy Syaikh semasa hidupnya, “Masyumi adalah
satu-satunya partai bagi ummat Islam Indonesia!” NU keluar dari Masyumi
sesudah Hadlratusy Syaikh wafat.
Apakah sikap pilihan mereka
itu mu’tabar atau tidak, adalah soal ijtihadi. Tapi saya sungguh ingin
mempercayai bahwa di hati mereka berdua tetap bersemayam ke-NU-an yang
berpendar-pendar cahayanya.
Pada suatu hari di awal abad ke-20,
salah seorang santri datang ke Tebuireng untuk mengadu. Santri itu
Basyir namanya, berasal dari kampung Kauman, Yogyakarta. Kepada kyai
panutan mutlaknya itu, santri Basyir mengadu tentang seorang tetangganya
yang baru pulang dari mukim di Makkah, yang kemudian membuat odo-odo
“aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat kampungnya.
“Siapa namanya?” tanya Hadlratusy Syaikh.
“Ahmad Dahlan”
“Bagaimana ciri-cirinya?”
Santri Basyir menggambarkannya.
“Oh! Itu Kang Darwis!” Hadlratusy Syaikh berseru gembira. Orang itu,
beliau sudah mengenalnya. Nama kecilnya Darwis. Teman semajlis dalam
pengajian-pengajian Syaikh Khatib Al Minangkabawi di Makkah sana.
Mengikuti tradisi ganti nama bagi orang yang pulang dari Tanah Suci,
beliau pun kemudian menggunakan nama Ahmad Dahlan
“Tidak
apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada
dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu
bantu dia”.
Santri Basyir patuh. Maka ketika kemudian Kyai
Ahmad Dahlan medirikan Muhammadiyah, Kyai Basyir adalah salah seorang
tangan kanan utamanya.
Apakah Kyai Basyir “tak pernah NU”?
Belum tentu. Puteranya, Azhar bin Basyir, beliau titipkan kepada Kyai
Abdul Qodir Munawwir (Kakak ipar Kyai Ali Ma’shum) di Krapyak,
Yogyakarta, untuk memperoleh pendidikan Al Quran dan ilmu-ilmu agama
lainnya. Pengajian-pengajian Kyai Ali Ma’shum pun tak ditinggalkannya.
Belakangan, Kyai Azhar bin Basyir terpilih sebagai Ketua Umum PP
Muhammadiyah menggantikan AR Fahruddin. Kepada teman sekombong saya,
Rustamhari namanya, anak Godean yang menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah UGM, saya gemar meledek,
“Kamu nggak usah macam-macam”, kata saya waktu itu, “ketuamu itu ORANG NU!”